![]() |
| kebutuhan minyak sawit meningkat |
Pasar minyak sawit asia terus bertransformasi menuju minyak sawit berkelanjutan
Sustainable Palm Oil
panggilan hijau dari pasar tujuan ekspor ini ikut membantu perbaikan tata kelola dan praktek Sawit Indonesia
saat ini sebanyak 15000 petani sawit Swadaya telah menerapkan standar berkelanjutan terhadap minyak sawit
namun pada Tahun 2022 Indonesia menargetkan seluruh petani sawit menerapkan standar perkebunan sawit berkelanjutan
Hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan Kian menjadi tren
bahkan tuntutan global dalam seluruh aspek kehidupan masa kini termasuk kebutuhan konsumsi minyak sawit
dan produk turunannya.
hal ini memaksa produsen minyak sawit Indonesia mengikuti standar berkelanjutan dari hulu hingga Hilir
termasuk Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia harus beradaptasi dengan perubahan tersebut
karena 65% minyak sawit Indonesia diekspor terutama ke Tiongkok yang di tahun 2018 telah membentuk aliansi minyak sawit berkelanjutan
Tiongkok sebuah sinyal untuk penerapan standar berkelanjutan terhadap minyak sawit yang masuk pasar Tiongkok
perkebunan tren pasar Asia Kian memacu praktik sawit berkelanjutan di tanah air
tidak terkecuali perkebunan sawit Swadaya yang menguasai 41% perkebunan sawit Indonesia dan menyumbang 33,8%
produksi CPO asal Indonesia.
sejumlah petani sawit di Sumatera Utara juga mengikuti pendampingan dalam penerapan standar pengelolaan kelapa sawit
yang baik untuk mendapatkan sertifikat internasional seperti RSPO
sementara untuk sertifikasi berkelanjutan standar Indonesia ISPO masih menghadapi sejumlah kendala
dalam pengurusan surat tanda daftar usaha perkebunan untuk budidaya STTB.
sementara kepala sekretariat forum petani sawit berkelanjutan Indonesia fortasbi Rafik menyatakan
panggilan hijau dari pasar Tiongkok akan memacu petani sawit swadaya untuk meningkatkan tata kelola dan praktik
sawit berkelanjutan
namun pemenuhan standar itu masih membutuhkan waktu dan proses yang panjang
serta dukungan seluruh pemangku kepentingan sawit
Direktur perlindungan perkebunan Ditjen perkebunan Kementan Baginda Siagian mengakui
sertifikasi minyak sawit berkelanjutan Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan
keberterimaan di pasar luar negeri
karena itu sosialisasi dan diplomasi pasar akan terus dilakukan termasuk penguatan ISPO
dengan insentif seperti klasifikasi harga sawit ke pasar tujuan ekspor
Hingga Tahun 2022 sertifikasi ISPO untuk perkebunan rakyat baru mencapai 1 sampai 2% dari 7,6 juta hektar
lahan sawit rakyat
Kementerian Pertanian bersama para pihak terus berjibaku agar sertifikasi wajib ini bisa menjangkau
seluruh petani sawit Swadaya pada tahun 2025

Tidak ada komentar
Posting Komentar