Kejang adalah gangguan spontan pada sistem kelistrikan otak, 

sedangkan epilepsi adalah kejang berulang tanpa sebab yang jelas 
yang dapat disertai penurunan kesadaran. 

kgejala kejang anak
gejala kejang pada anak


Jenis kejang pada anak dapat berupa kejang fokal, kejang umum, atau kejang demam, 

namun hanya pada bagian tertentu, 

sedangkan kejang umum, penderita biasanya mengalami penurunan kesadaran, 

dan seluruh tubuh mengalami kejang atau gerakan kaku. 


Ada banyak jenis kejang, bukan hanya kelesuan atau kedinginan. 

Sering tiba-tiba jatuh tanpa sebab yang jelas 

Salah satu jenis kejang yang sering terjadi pada anak adalah kejang demam 


Kejang demam adalah kejang pada anak yang disertai demam lebih dari 38 derajat Celcius 

dan bukan karena kelainan pada otak. 

Kejang demam biasanya terjadi antara usia 6 bulan sampai 5 tahun.

Sedangkan kejang tanpa demam dapat terjadi pada anak segala usia, 

kebanyakan karena trauma kepala, infeksi otak atau gangguan pembuluh darah otak. cedera kepala, 

gangguan metabolisme serebrovaskular, atau epilepsi.


Risiko kejang pada anak dapat muncul sejak lahir, 

kekurangan oksigen atau cedera jalan lahir dapat terjadi pada masa pertumbuhan, 

gangguan perkembangan otak yang dapat disebabkan oleh virus, penyakit bawaan, trauma kepala, dll. 


Pasien kejang tidak dapat dibatasi secara paksa dengan  gerakan kekerasan, 

karena ini merusak otot dan tulang, sehingga pasien harus diamankan dengan benda-benda di sekitarnya, 

dan tidak memberikan apapun yang dapat membahayakan pasien, kopi, dll, sendok, dll. pasien selama serangan. 

ada resiko saluran napas saat memberikan nafas atau  kejang di mulut, 

tidak semua anak  kejang pasti  menderita epilepsi, 

karena penyebab serangannya bermacam-macam bisa karena demam, bisa disebabkan oleh infeksi virus, 

bahkan bisa disebabkan oleh cedera kepala dan juga dapat disebabkan  oleh epilepsi, 

namun  setiap penderita epilepsi pasti mengalami kejang yang terlalu lama, 

yang dapat merusak sel-sel otak. 


Kejang demam sederhana biasanya  berlangsung dari beberapa detik hingga kurang dari 2 menit. 

dalam jangka waktu yang lama, apalagi berulang-ulang, dapat merusak sel-sel otak sehingga anak  

mengalami kerusakan otak secara permanen. 


Beberapa penelitian menemukan bahwa diet ketogenik, atau diet  tinggi lemak, rendah karbohidrat, 

dapat membantu penderita epilepsi mengurangi frekuensi kejang 

pada diet ini karena sumber energi utama yang biasanya  berasal dari karbohidrat, kini berasal dari lemak, 

jadi . mengarah ke proses ketosis dalam tubuh, proses ketosis  menghasilkan keton, 

yang secara teoritis dapat menormalkan aktivitas listrik otak sehingga dapat mengurangi frekuensi kejang, 

namun untuk melakukan diet ketogenik ini  tetap perlu ke dokter.